Colors Everywhere
RSS
Where you find many colors of life
Things I Like (+)

Seringkali aku melihatnya. Berkelebatan di depan mata. Rambutnya, postur tubuhnya, pantatnya..sama persis dengan apa yang pernah kuingat. Tapi aku tidak pernah berani untuk menatapnya lebih dari dua detik. Cukup begitu.

Realizing that advertisement and fashion could be very harmful for children

fisipers:

Panitia Cerita Indonesia Photography Competition mengucapkan selamat kepada seluruh pemenang. Kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya bagi seluruh peserta Cerita Indonesia Photography Competition. Terima kasih sekali atas partisipasinya. Sampai bertemu di kompetisi berikutnya!

JUARA…

Dosen saya suka orgasme di kelas. Matanya membelalak sambil tersenyum lebar. Bukan karena Stoya telanjang seluruh badan. Bukan juga melihat muka mesumnya Maria Ozawa. Tidak ada yang “berdiri” selain telunjuknya yang mengarah pada salah satu di antara kami. Puas sekali. Menertawakan sepenuh hati. Merasa paling tahu sendiri karena menganggap kami mahasiswa semester dini.

Dosen saya suka orgasme di kelas. Sambil menunjuk salah satu dari kami ia berkata, “Nggak pernah baca buku filsafat ya? Hahaha..” atau “Nggak bisa ngenet di kampus? Kasian deh. Hahaha..” Menertawakan sepenuh hati. Puas sekali.

“Yah kalo emang passion mah dikejar jar jar sampe dapet, ma.”

— Teman lama

vinnylogy:

Jika namamu yang ditulis di Lauhul Mahfudz untuk diriku niscaya rasa cinta itu akan ALLAH tanamkan dalam diri kita. Tugas pertamaku bukan mencari dirimu tetapi mempersholehkan diriku.

Wahai seseorang yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfudzku, Imamku dan ayah dari anak-anakku. engkau yang membersamai perjalananku nanti.

Aku percaya kau sedang memperbaiki dirimu, memantaskan dirimu untuk menjadi Imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak.

Bukan ikut-ikutan. Hanya saja rasanya seperti aku ikut jatuh cinta ketika Ibu Sati bercerita mengenai manfaatnya. Akan membuat otot-otot tubuh mengendur dan pikiran menjadi rileks, bahkan membuatmu terbang! Manfaat terakhir tentu saja bisa dilakukan oleh orang dengan tingkatan yang lebih ahli. Kubuka jendela kamarku yang mentok dengan bangunan lain, berusaha merasakan kesejukan dari angin yang numpang lewat, lalu kusemprotkan pengharum ruangan beraroma green tea yang katanya bisa menenangkan. Sekali lagi kucek kasur kesayanganku. Sudah bersih tanpa debu atau kerikil halus yang tidak sengaja terbawa ke sana. Tissue bekas, struk belanja, dan bungkus obat yang terkadang berceceran di kasur pun sudah aku pindahkan ke meja belajar. Sempurna. Aku tersenyum samar.

Aku beranjak ke atas kasur. Siap dengan posisi bersila, punggung tegak, dan tangan di atas paha dengan jari-jari membentuk huruf O – pertautan ibu jari dengan jari tengah. Pejamkan mata.. tarik napas dalam-dalam lalu bayangkan sebuah benda secara detail. Teruus.. lama-lama napasmu akan semakin berat. Aku sudah hapal di luar kepala mantra itu, hadiah dari temanku. Sekarang tiba giliranku untuk mempraktikkannya. Ya, ini adalah pengalaman meditasiku yang pertama.

Kupejamkan mata. Hitam.

Tiba-tiba aku terdampar dalam sebuah imaji ketika aku berusia lima tahun. Rumah dengan halaman yang gersang. Hanya ada tumbuhan yang sering kusebut dengan daun mangkok dan pohon kelapa di samping rumah – batangnya melengkung di atas sungai kecil. Pandanganku berhenti di sebuah rumah yang merangkap warung kelontong. Di sampingnya ada tumbuhan bunga sepatu berwarna merah muda. Indah sekali. Aku mengira-ngira jumlah kelopaknya ada lima, warnanya semakin tua di dasar. Dari tengah mencuat putik yang tingginya melebihi kelopak dengan benang sari kekuningan di sekitarnya, membuat gabungan keduanya terlihat seperti topi kuplik kuning dari kejauhan. Di belakang rumah tersebut ada kompleks pemakaman yang cukup menyeramkan.

Kubuka mata dengan gerakan ekstra cepat. Merutuki diri sendiri yang malah tiba-tiba membayangkan pemakaman. Kucoba fokus pada si bunga sepatu. Putik-putik kuning itu pasti akan lebih indah jika ada seekor lebah terbang rendah di atasnya. Kepakan sayapnya.. Naik turun.. Dan tiba-tiba pemakaman itu datang lagi. Membuatku ketakutan hingga akhirnya aku kembali membuka mata. Apakah sesulit ini memejamkan mata, menarik napas, dan membayangkan sebuah benda?

Aku bersikukuh untuk meneruskan meditasiku yang terpotong. Tapi usahaku seperti sia-sia karena semakin dalam aku membenamkan pikiran, semakin hilang si bunga sepatu. Suasana mendadak seperti begitu hingar-bingar. Suara percakapan di sinetron dan suara acara musik dari dua kamar sebelah ternyata cukup mengganggu. Suara motor yang hilir mudik pun selalu berhasil mengusik konsentrasiku. Belum lagi pemakaman dan ‘isi’-nya yang muncul ketika aku memejamkan mata. Baiklah, aku menyerah. Nanti saja kapan-kapan kulakukan lagi meditasi. Maafkan aku Ibu Sati..

Puncak Cap Go Meh: Bogor Street Festival 2012

Ketika Dewa-Dewi Turun Ke Bumi